This Week's/Trending Posts

Hand-Picked/Curated Posts

Most Popular/Fun & Sports

Hand-Picked/Weekly News

The Most/Recent Articles

مَنْ جَدَّ وَجَدَ


 مَنْ جَدَّ وَجَدَ

“Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti bakal dapet hasil.”

Bro… ini bukan cuma tulisan Arab buat ditempel di dinding asrama 😌
Ini hukum alam santri.

Di Gontor kita diajarin satu hal dari awal masuk sampai mau pulang:
👉 nggak ada hasil tanpa capek.

Lu bangun subuh, ngantuk, mata masih 5 watt.
Lu maksa ngaji padahal otak lagi loading.
Lu hafalan kosa kata, salah-salah, diketawain temen.
Lu latihan pidato, grogi, suara gemeter.

Semua itu bukan sia-sia.

Karena man jadda wa jada itu bukan janji kosong.
Allah nggak pernah PHP.
Kalau lu niat bener, usaha bener, sabar bener, hasil itu pasti nyamperin, cepat atau lambat.

Masalahnya, banyak yang maunya “jada” tapi males “jadda”.
Pengin jago bahasa, tapi kamus jarang dibuka.
Pengin jadi pemimpin, tapi disuruh maju malah ngumpet.
Pengin sukses, tapi rebahan nomor satu.

Inget bro,
🔥 Santri itu ditempa, bukan dimanja.
🔥 Capek sekarang, bangga belakangan.

Jangan minder kalau hari ini masih kalah.
Yang penting jangan berhenti jalan.
Karena yang berhenti itu bukan kalah…
tapi nyerah.

Gas terus.
Sedikit tapi rutin.
Pelan tapi istiqomah.

Karena di ujung usaha itu,
“وَجَدَ” lagi nungguin lu. 💪🔥

The Brilliant Generation Abadikan Kebersamaan dalam Satu Bingkai Kenangan

 Pagi masih berselimut embun ketika pelataran antara Gedung Aligarh dan Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) mulai dipenuhi barisan rapi. Jumat (16/1) itu, seluruh Siswa Kelas Akhir Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) 2026—yang menamakan diri The Brilliant Generation—berkumpul untuk satu momen istimewa: perfotoan bersama sebelum melangkah menuju fase kehidupan berikutnya.

Sejak pukul 05.00 WIB, para santri telah hadir dengan mengenakan kemeja dan almamater resmi angkatan. Wajah-wajah segar, langkah mantap, dan barisan yang tertata menciptakan harmoni dengan suasana pagi yang masih tenang. Di hadapan mereka hadir Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Rektor UNIDA Gontor, para wali kelas, serta guru-guru pembimbing—lengkap dalam satu bingkai kebersamaan.

Perfotoan ini bukanlah kegiatan biasa. Hampir satu bulan penuh dipersiapkan demi memastikan setiap detail berjalan sempurna. Koreografi barisan telah dirancang matang, lengkap dengan panduan tertulis yang dibagikan kepada para santri. Pergantian formasi demi formasi berlangsung tertib dan sistematis, mencerminkan kedisiplinan yang telah ditempa bertahun-tahun di Gontor.

Suasana kian hangat ketika K.H. Hasan Abdullah Sahal menyapa para santri. Senyum, wejangan singkat, hingga pantun yang beliau lontarkan mencairkan suasana tanpa menghilangkan kekhidmatan. Kamera pun mulai mengabadikan momen, diawali dengan formasi utama bertuliskan “Bright, Bold, Brilliant”, disusul 12 formasi lainnya yang menjadi simbol semangat, keberanian, dan kejernihan visi The Brilliant Generation. Kegiatan ditutup dengan menyanyikan mars angkatan dan perfotoan per kelas—mengunci kebersamaan dalam nada dan cahaya.

Perfotoan tahun ini terasa berbeda. Pembangunan New BPPM yang hampir rampung menghadirkan sudut pandang baru pada bidikan kamera, memberi kesan lebih luas dan megah. Kehadiran maskot The Brilliant Generation pun menambah nuansa unik dan menyuntikkan semangat tersendiri bagi seluruh santri.

Usai sesi bersama, agenda berlanjut dengan perfotoan individual Bapak Pimpinan PMDG dan para guru pembimbing di Gedung Aligarh. Coffee break kemudian menjadi ruang jeda yang hangat—tempat silaturahmi, tawa ringan, dan percakapan singkat yang mungkin kelak akan dikenang sebagai bagian dari perpisahan yang manis.

Lebih dari sekadar gambar, foto-foto yang dihasilkan diharapkan menjadi arsip kenangan. Ia tidak hanya merekam wajah dan barisan, tetapi menyimpan cerita tentang waktu yang dilalui, proses yang ditempa, dan perjalanan kebersamaan yang akan selalu hidup—bahkan ketika langkah mereka telah menempuh jalan masing-masing.A



Ujian Lisan: Saat Ilmu Diuji, Mental Ditempa di Gontor

Di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), ujian bukan sekadar garis akhir dari proses belajar. Ia justru menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri. Sejak Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) berdiri, ujian dirancang bukan hanya untuk mengukur capaian akademik, tetapi untuk mendidik, membentuk, dan menempa karakter santri. Salah satu wajah paling khas dari sistem ini adalah ujian lisan.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Direktur KMI, Al-Ustadz Dr. H. Ahmad Suharto, M.Pd., dalam wawancara yang menegaskan bahwa ujian lisan merupakan identitas pendidikan KMI yang tidak bisa dilepaskan dari ruh Gontor.

Ujian lisan adalah evaluasi akademik berbasis dialog langsung antara guru dan santri. Di ruang inilah kemampuan santri diuji secara utuh: penguasaan materi, kerapian berpikir, kecakapan berbahasa, hingga keberanian berbicara. Santri yang benar-benar memahami pelajaran akan mampu menjawab dengan runtut, sistematis, dan argumentatif—bukan sekadar menghafal.

Berbeda dengan ujian tulis yang menitikberatkan analisis konseptual dan kemampuan menuangkan gagasan dalam tulisan, ujian lisan menyentuh dua sisi sekaligus: intelektual dan mental. Di sinilah keilmuan dan keberanian ditempa dalam satu waktu.

Di KMI, ujian tulis dan ujian lisan tidak dipertentangkan, melainkan disusun agar saling melengkapi. Ujian tulis digunakan untuk materi yang membutuhkan penguraian konsep dan analisis mendalam. Sementara itu, ujian lisan difokuskan pada kompetensi inti santri KMI: Al-Qur’an, praktik ibadah, serta penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Al-Qur’an menjadi fondasi utama. Santri tidak hanya dituntut mampu membaca, tetapi juga memahami tajwid dan praktik ibadah secara benar. Karena itu, ujian Al-Qur’an dilaksanakan di seluruh jenjang pendidikan KMI. Bahasa Arab dan Inggris pun menjadi identitas strategis Gontor. Bahasa Arab membuka pintu pemahaman Al-Qur’an dan khazanah keilmuan Islam, sementara bahasa Inggris memperluas wawasan global dan cakrawala berpikir.

Menariknya, ujian lisan selalu didahulukan sebelum ujian tulis. Ini bukan kebetulan, melainkan strategi pendidikan. Melalui ujian lisan, santri dibentuk malakah—penguasaan materi yang matang dan menyatu. Santri dipaksa tidak hanya tahu, tetapi benar-benar paham dan mampu mengekspresikan ilmunya secara lisan. Ujian tulis kemudian hadir sebagai penguatan dan pengulangan dari apa yang telah dikuasai.

Dalam ujian lisan, penilaian tidak berhenti pada benar atau salah. Yang dinilai adalah proses berpikir. Santri dituntut menjawab sesuai pertanyaan, menyampaikan alasan, dan mempertanggungjawabkan pendapatnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti limaadza (mengapa), maa ra’yuka fii hadza (apa pendapatmu), atau maa hujjatuka (apa dalilmu) secara halus melatih santri berpikir kritis, reflektif, dan analitis—dari tingkat sederhana hingga kompleks.

Lebih jauh, ujian lisan juga merupakan ujian mental. Model satu santri diuji oleh beberapa penguji bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk melatih keberanian, kemandirian, dan ketenangan dalam tekanan. Santri dibiasakan menghadapi tantangan dengan kepala dingin dan sikap bertanggung jawab.

Keterlibatan Siswa Akhir KMI sebagai penguji menjadi bagian penting dari proses kaderisasi. Gontor sejak awal memposisikan diri sebagai lembaga pencetak pemimpin. Melalui peran ini, siswa akhir belajar mengajar, menilai, dan memikul amanah—bekal nyata sebelum terjun sebagai pendidik dan pemimpin di masa depan. Secara teori dan praktik, mereka telah disiapkan melalui pelajaran tarbiyah dan ujian praktik mengajar.

Pada akhirnya, ujian lisan di KMI adalah wujud nyata dari prinsip al-imtihaanu li-t-ta’allum wa li-t-tarbiyah—ujian untuk belajar dan mendidik. Melalui ujian, santri mengenal kapasitas dirinya, terdorong untuk belajar lebih sungguh-sungguh, mencintai ilmu, menghargai waktu, dan terus memperbaiki kualitas diri.

Inilah ujian yang tidak hanya mengukur hasil, tetapi membangun proses dan karakter. Ujian yang tidak sekadar menilai, tetapi menempa. Di Gontor, ujian lisan bukan akhir dari belajar—ia adalah bagian dari pendidikan itu sendiri.



Hakikat Identitas Santri di Tengah Perubahan Zaman

Di tengah dunia yang bergerak serba cepat—dipacu teknologi, kecerdasan buatan, dan banjir informasi—kata identitas perlahan terasa kabur. Siapa kita, untuk apa kita hidup, dan nilai apa yang kita pegang, kerap tersisih oleh hiruk-pikuk zaman. Dari kegelisahan inilah sebuah renungan lahir dalam podcast bertajuk “Hakikat Identitas Santri”, yang disampaikan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH. Hasan Abdullah Sahal.

Dengan nada tenang namun tegas, Kiai Hasan mengajak santri dan alumni Gontor—bahkan masyarakat luas—untuk berhenti sejenak dan bermuhasabah. Bagi beliau, identitas bukan sekadar label sosial atau status administratif. Ia adalah inti kemanusiaan itu sendiri.

“Identitas itu mutlak. Manusia yang tidak punya identitas, bukan manusia,” ujar beliau lugas.

Di pesantren, identitas santri tidak berhenti pada sebutan pernah mondok atau alumni Gontor. Identitas itu hidup dalam nilai—terutama nilai belajar. Santri datang kepada kiai sebagai penuntut ilmu, dan dari situlah adab dilahirkan. Prinsip al-adabu qobla al-fahmi—beradab sebelum paham—menjadi fondasi yang tak tergantikan.

“Kiai itu tuan rumah, santri adalah tamu,” kata Kiai Hasan. Sebuah perumpamaan sederhana, namun sarat makna. Dalam diri santri, penghormatan terhadap ilmu dan ulama—ikraamu-l-‘ilmi wa-l-‘ulama—harus tertanam kokoh. Perbedaan pendapat boleh saja terjadi, tetapi adab tidak pernah boleh ditanggalkan.

“Boleh beda, tapi ikraamu-l-‘ilmi-nya tetap,” tegas beliau.

Namun, kepatuhan santri bukanlah kepatuhan buta. Mengikuti kiai tidak sama dengan taqliidu-l-a’ma. Justru, identitas santri menuntut kecerdasan berpikir, daya kritis, dan nurani yang jernih.

“Kebenaran itu bukan milik siapa-siapa, hanya milik Allah semata,” ujar Kiai Hasan. Maka, kritik bukan sesuatu yang harus ditakuti, selama disampaikan dengan adab dan tanggung jawab.

Bagi beliau, kekuatan pesantren terletak pada keteladanan. Kiai bukan sekadar pengajar di ruang kelas; kehidupannya adalah pelajaran itu sendiri. Dari sanalah barokah mengalir—bukan dari sosok kiainya, melainkan dari amal shaleh yang dijalani.

“Kalau ada santri minta barokah ke kiai, itu benar-benar salah,” ujar beliau menegaskan. “Barokah itu dari Allah, melalui amal shalehnya kiai.”

Gontor, menurut Kiai Hasan, tidak pernah menutup mata terhadap perubahan zaman. Teknologi, media, bahkan kecerdasan buatan diakui membawa peluang sekaligus risiko.

“Perkembangan itu ada yang positif, ada yang negatif, ada yang di antara keduanya,” jelasnya. Karena itu, santri dituntut untuk cerdas dalam bersikap, bukan reaktif atau silau tren.

“Perubahan tidak bisa di-stop. Tapi, ada yang tidak boleh berubah, ada yang boleh berubah, dan ada yang harus berubah,” katanya. Di titik inilah nurani memainkan peran utama. Nurani adalah kecerdasan hati—sesuatu yang justru kerap ditinggalkan manusia modern. Akibatnya, kepalsuan dirayakan, fitrah diingkari.

“Kalau zamannya jelek, jangan diikuti,” ucap Kiai Hasan singkat namun menghunjam. Ia menyinggung krisis adab, runtuhnya akhlak, dan kekacauan sosial yang berakar dari jauhnya manusia dari Al-Qur’an, ilmu, dan ulama.

“Sekarang ada laki-laki malu menjadi laki-laki, ada perempuan malu menjadi perempuan. Padahal al-Islamu diinu-l-fitrah—Islam adalah agama fitrah.”

Di tengah situasi itulah pesantren hadir sebagai benteng. Ia menjaga fitrah manusia, menanamkan makna hidup, dan membentuk karakter. Tanpa merendahkan jalur pendidikan lain, Kiai Hasan menekankan bahwa tujuan akhir pendidikan bukan sekadar ijazah.

“Betapa orang yang mau masuk surga, tidak perlu ijazah,” ujarnya—sebuah pengingat bahwa hidup penuh arti jauh lebih penting daripada sekadar pengakuan formal.

Santri, menurut beliau, sejatinya telah dibekali segalanya: akal, nurani, dan potensi. Yang tersisa hanyalah pilihan—bagaimana semua itu digunakan.

Podcast itu ditutup dengan pesan sederhana namun mendalam tentang kehormatan diri:

“Jati diri, bina diri, harga diri, tahu diri, jaga diri, tahan diri.”

Bukan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain, tetapi untuk satu tujuan yang lebih jujur:

menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin.

Di tengah dunia yang terus berlari, pesan itu terasa seperti jangkar—menahan manusia agar tidak kehilangan arah.