Di tengah dunia yang bergerak serba cepat—dipacu teknologi, kecerdasan buatan, dan banjir informasi—kata identitas perlahan terasa kabur. Siapa kita, untuk apa kita hidup, dan nilai apa yang kita pegang, kerap tersisih oleh hiruk-pikuk zaman. Dari kegelisahan inilah sebuah renungan lahir dalam podcast bertajuk “Hakikat Identitas Santri”, yang disampaikan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH. Hasan Abdullah Sahal.
Dengan nada tenang namun tegas, Kiai Hasan mengajak santri dan alumni Gontor—bahkan masyarakat luas—untuk berhenti sejenak dan bermuhasabah. Bagi beliau, identitas bukan sekadar label sosial atau status administratif. Ia adalah inti kemanusiaan itu sendiri.
“Identitas itu mutlak. Manusia yang tidak punya identitas, bukan manusia,” ujar beliau lugas.
Di pesantren, identitas santri tidak berhenti pada sebutan pernah mondok atau alumni Gontor. Identitas itu hidup dalam nilai—terutama nilai belajar. Santri datang kepada kiai sebagai penuntut ilmu, dan dari situlah adab dilahirkan. Prinsip al-adabu qobla al-fahmi—beradab sebelum paham—menjadi fondasi yang tak tergantikan.
“Kiai itu tuan rumah, santri adalah tamu,” kata Kiai Hasan. Sebuah perumpamaan sederhana, namun sarat makna. Dalam diri santri, penghormatan terhadap ilmu dan ulama—ikraamu-l-‘ilmi wa-l-‘ulama—harus tertanam kokoh. Perbedaan pendapat boleh saja terjadi, tetapi adab tidak pernah boleh ditanggalkan.
“Boleh beda, tapi ikraamu-l-‘ilmi-nya tetap,” tegas beliau.
Namun, kepatuhan santri bukanlah kepatuhan buta. Mengikuti kiai tidak sama dengan taqliidu-l-a’ma. Justru, identitas santri menuntut kecerdasan berpikir, daya kritis, dan nurani yang jernih.
“Kebenaran itu bukan milik siapa-siapa, hanya milik Allah semata,” ujar Kiai Hasan. Maka, kritik bukan sesuatu yang harus ditakuti, selama disampaikan dengan adab dan tanggung jawab.
Bagi beliau, kekuatan pesantren terletak pada keteladanan. Kiai bukan sekadar pengajar di ruang kelas; kehidupannya adalah pelajaran itu sendiri. Dari sanalah barokah mengalir—bukan dari sosok kiainya, melainkan dari amal shaleh yang dijalani.
“Kalau ada santri minta barokah ke kiai, itu benar-benar salah,” ujar beliau menegaskan. “Barokah itu dari Allah, melalui amal shalehnya kiai.”
Gontor, menurut Kiai Hasan, tidak pernah menutup mata terhadap perubahan zaman. Teknologi, media, bahkan kecerdasan buatan diakui membawa peluang sekaligus risiko.
“Perkembangan itu ada yang positif, ada yang negatif, ada yang di antara keduanya,” jelasnya. Karena itu, santri dituntut untuk cerdas dalam bersikap, bukan reaktif atau silau tren.
“Perubahan tidak bisa di-stop. Tapi, ada yang tidak boleh berubah, ada yang boleh berubah, dan ada yang harus berubah,” katanya. Di titik inilah nurani memainkan peran utama. Nurani adalah kecerdasan hati—sesuatu yang justru kerap ditinggalkan manusia modern. Akibatnya, kepalsuan dirayakan, fitrah diingkari.
“Kalau zamannya jelek, jangan diikuti,” ucap Kiai Hasan singkat namun menghunjam. Ia menyinggung krisis adab, runtuhnya akhlak, dan kekacauan sosial yang berakar dari jauhnya manusia dari Al-Qur’an, ilmu, dan ulama.
“Sekarang ada laki-laki malu menjadi laki-laki, ada perempuan malu menjadi perempuan. Padahal al-Islamu diinu-l-fitrah—Islam adalah agama fitrah.”
Di tengah situasi itulah pesantren hadir sebagai benteng. Ia menjaga fitrah manusia, menanamkan makna hidup, dan membentuk karakter. Tanpa merendahkan jalur pendidikan lain, Kiai Hasan menekankan bahwa tujuan akhir pendidikan bukan sekadar ijazah.
“Betapa orang yang mau masuk surga, tidak perlu ijazah,” ujarnya—sebuah pengingat bahwa hidup penuh arti jauh lebih penting daripada sekadar pengakuan formal.
Santri, menurut beliau, sejatinya telah dibekali segalanya: akal, nurani, dan potensi. Yang tersisa hanyalah pilihan—bagaimana semua itu digunakan.
Podcast itu ditutup dengan pesan sederhana namun mendalam tentang kehormatan diri:
“Jati diri, bina diri, harga diri, tahu diri, jaga diri, tahan diri.”
Bukan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain, tetapi untuk satu tujuan yang lebih jujur:
menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin.
Di tengah dunia yang terus berlari, pesan itu terasa seperti jangkar—menahan manusia agar tidak kehilangan arah.